Sosiologi
Kehutanan Medan, Oktober 2019
SUKU PAKPAK
Dosen Penanggung Jawab
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Disusun Oleh :
Harini Mulianta
Sinaga
171201074
Manajemen Hutan
5
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sosiologi mempelajari
dan perilaku sosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnya. Kelompok
tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, komunitas,pemerintahan dan berbagai
organisasi sosial, agama, politik, bisnis serta organisasi lainnya. Sosiologi
mempelajari perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal-usul
pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap
anggotanya. Masyarakat, komunitas, keluarga, perubahan gaya hidup, struktur, mobilitas
sosial, gender, interaksi sosial, perubahan sosial, perlawanan sosial, konflik,
integrasi sosial dan sebagainya adalah sejumlah contoh yang memperlihatkan
betapa luasnya ruang kajian sosiologi.
Keragaman budaya adalah
suatu kekayaan bangsa Indonesia. Banyaknya suku bangsa di Indonesia dengan ciri
khas budayanya masing-masing menjadi asset bangsa yang berharga yang tidak
dimiliki oleh bangsa lain di dunia. Kekayaan budaya ini harus tetap terawat dan
di lestarikan oleh generasi penerus, Karena itulah yang menjadi identitas yang
melekat bagi suatu suku bangsa yang bisa menunjukkan jati dirinya. Indonesia
memiliki Sangat banyak kekayaan budaya antara lain : rumah adat, lagu daerah,
tari daerah, situs peninggalan bersejarah, pakaian tradisional, makanan dan
minuman tradisional, adat istiadat dan masih banyak lagi. Salah satunya
kekayaan budaya yang akan dibahas ditulisan ini adalah kekayaan kebudayaan
masyarakat pak-pak.
Suku Batak Pakpak
adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di beberapa kabupaten di provinsi
Sumatra Utara dan di sebagian wilayah provinsi Nanggroe Aceh. Orang Batak
Pakpak, berbicara dalam bahasa sendiri, yaitu bahasa Pakpak. Sedangkan di
Kelasen bahasa Pakpak disebut sebagai bahasa Dairi. Bahasa Pakpak ini merupakan
cabang dari rumpun bahasa Austronesia, yang termasuk dari salah satu cabang
dari rumpun bahasa Batak. Bahasa Batak Pakpak memiliki kekerabatan dengan
bahasa Batak Karo, tapi bahasa Pakpak juga banyak mirip dengan bahasa Batak
Toba. Pemakai bahasa Pakpak sendiri mengalami penurunan diakibatkan banyaknya
arus pendatang di luar suku Pakpak yang memasuki wilayah mereka. Para generasi
muda semakin enggan menggunakan bahasa Pakpak dalam pergaulan sehari-hari.
Perkawinan dengan suku di luar suku Pakpak, serta pengaruh bahasa-bahasa dari
para pendatang turut mempengaruhi kelestarian bahasa Pakpak. Sepertinya hal ini
perlu mengalami perubahan yang berarti agar bahasa Pakpak tidak hilang di
daerahnya sendiri. Dalam bahasa Batak Pakpak ada suatu ucapan khas, yaitu
"Njuah-Njuah", yang berarti "semoga sehat selalu".
Secara umum Pakpak
digolongkan sebagai bagian dari suku Batak, seperti halnya Toba, Simalungun,
Karo dan Mandailing. Namun kenyataannya, pada umumnya masyarakat Pakpak tidak
mau disebut suku Batak Pakpak karena sebutan Pakpak kurang berterima dan
dianggap mempunyai arti nama hewan (babi). Oleh karena itu masyarakat Pakpak
lebih senang disebut dengan sebutan suku Pakpak. Pada umumnya suku Pakpak
sendiri tidak terlepas dari kegiatan upacara adat yang berlaku di tengah-tengah
masyarakat dan wajib dilaksanakan. Istilah upacara dalam suku Pakpak disebut
dengan kerja. Salah satu
upacara penting dalam masyarakat suku Pakpak adalah upacara perkawinan yang
disebut dengan istilah merbekkas kom/merbayo.
Sebagian kecil orang Pakpak menyatakan terdapat perbedaan konsep antara
orang Pakpak dengan etnis Batak lain. Seperti misalnya kepercayaan asli orang
Batak Toba yang percaya kepada Debata Mulajadi Na Bolon yang ternyata tidak
dikenal dalam tradisi orang Pakpak. Selain itu, konsep Dalihan Natolu juga
tidak ada dalam masyarakat Pakpak. Walaupun terdapat beberapa perbedaan,
ternyata justru persamaannya sangat banyak sekali antara orang Pakpak dengan
etnis-etnis Batak lainnya. Misalnya konsep exogami marga dalam perkawinan,
konsep patrilineal dalam pewarisan, konsep marga-marga dan persaudaraan marga
serta kearifan tradisional dalam pengelolaan lingkungan. Juga, kemiripan pada
bahasa, karakter, adat istiadat, budaya, rumah adat, struktur fisik dan
lain-lain banyak lagi. Jadi mungkin kalau orang Pakpak tidak mau disebut
sebagai sub-suku Batak, mungkin lebih bijaksana kalau disebut sebagai bagian
dalam Rumpun Batak saja.
BAB II
ISI
2.1 Asal usul Suku Pak-pak
Kata ‘pakpak’ dalam bahasa Pakpak
bermakna tinggi. Bisa jadi karena berdiam di dataran tinggi atau pegunungan
maka masyarakatnya dinamakan sebagai
orang Pakpak. Sejauh ini selain hasil telusuran berdasar asal-usul kata
(etimologi) ada juga tafsir ‘pakpak’
versi lain. Ada yang mengatakan
kata ini berasal dari ‘wakwak’, sebutan untuk kawasan ini oleh warga negeri
Abunawas (Irak sekarang) di zaman dulu.
Ada pula yang menyebut ‘pakpak’ berasal dari nama orang. Alkisah,
tiga pemuda bersahabat karib bertolak
dari Singkil. Nama mereka adalah si Gayo, si Karo, dan si Pakpak. Pemuda Gayo
melangkah mengikuti sungai Kali Alas. Ia tiba di tanah Gayo. Melanjut ke
Kutacane dia dan mentap selamanya. Pemuda Karo mengikuti Lae Ulun dan tiba di
tanah Karo. Di sana ia tinggal permanen. Adapun pemuda Pakpak, ia mengikuti Lae
Renun dan sampai di Pegagan Hilir. Di sana ia bergabung dengan penduduk asli
dan membentuk perkampungan. Seperti kedua sobatnya ia pun menjadi migran yang
berdiam menetap. Namanya kemudian diabadikan untuk seluruh kawasan.
Orang Pakpak berasal dari India Selatan yaitu dari Indika Tondal ke
Muara Tapus dekat Dairi lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi Suku
Pakpak. Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal namun
kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya. Tidak
semua Orang Pakpak berdiam di atas Tanah Dairi namun mereka juga berdiaspora,
meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru. Sebagian tinggal di Tanah
Pakpak dan menajadi Suku Pakpak “Situkak Rube” Sipungkah Kuta”
dan “Sukut Ni Talun” di Tanah Pakpak. Sebagian ada pergi merantau
ke daerah lain, membentuk komunitas baru. Dia tahu asalnya dari Pakpak
dan diakui bahwa Pakpak adalah sukunya namun sudah menjadi marga di suku
lain. Ada juga yang merantau lalu mengganti Nama dan Marga dengan kata lain
telah mengganti identitasnya.
Belum ditemukan bukti yang otentik
dan pasti tentang asal usul dan sejarah persebaran orang Pakpak. Hasil
penelitian yang dilakukan menunjukkan beberapa variasi. Pertama dikatakan bahwa
orag Pakpak berasal dari India selanjutnya masuk ke pedalaman dan beranak pinak
menjadi orang Pakpa. Versi lain menyatakan orang Pakpak berasal dari etnis
Batak Toba dan yang lain menyatakan orang Pakpak sudah ada sejak dahulu. Mana
yang benar menjadi relatif karena kurang didukung oleh fakta-fakta yang
objektif. Alasan dari India misalnya hanya didasarkan pada adanya kebiasaan
tradisional Pakpak dalam pembakaran tulang-belulang nenek moyang dan Dairi
sebagai daerah pantai dan pusat perdagangan berbatasan langsung dengan tanoh
Pakpak. Alasan Pakpak berasal dari Batak Toba hanya adanya kesamaan struktur
sosial dan kemiripan nama-nama marga.
Menurut pendapat lain, nenek moyang
orang Pakpak diperkirakan awalnya masuk ke Tanah Karo dan menetap disana. Ini
dibuktikan dengan adanya kedekatan bahasa antara suku Karo dan Pakpak, demikian
juga dengan adanya marga Cibro (Sibero di Karo), Maha, Lingga (Sinulingga di
Karo), dan lain-lain. Hal tersebut juga dibenarkan oleh cerita orang Karo bahwa
Ginting Sini Suka menurut cerita lisan Karo berasal dari Kelasen (Pakpak)
berasal dari Lingga Raja di Pakpak. Sementara itu ada juga marga-marga Pakpak
yang berasal dari Toba menetap di Tanoh Pakpak dan menjadi Raja Kuta seperti
marga Kabeaken dari Habeahan (Pasaribu), marga Lembeng (Limbong), Sagala,
Kaloko (Haloho), dan lain-lain.
2.2 Kontak Sosial
Kontak yang terjadi antara orang-orang Pakpak dengan para pendatang dari
India di masa lalu mengakibatkan terjadinya akulturasi. Akulturasi adalah salah
satu proses perubahan budaya, yang ditandai oleh terjadinya interaksi intensif
antara kelompok-kelompok individu dengan kebudayaan berbeda, yang mengakibatkan
terjadinya perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari
salah satu
atau kelompok-kelompok yang terlibat. Oleh para pakar antropologi akulturasi
dapat berupa:
1. Substitusi,
terjadi ketika satu atau sejumlah unsur kebudayaan yang telah ada sebelumnya
diganti oleh unsur kebudayaan baru yang lebih fungsional, sehingga
mengakibatkan hanya sedikit perubahan struktural dari kebudayaan bersangkutan.
2. Sinkritisme,
terjadi ketika sejumlah unsur budaya lama bercampur dengan unsur buaya baru
sehingga terbentuk suatu sistem baru yang mengakibatkan perubahan kebudayaan
yang cukup berarti.
3. Adisi,
terjadi ketika satu atau sejumlah unsur kebudayaan ditambahkan pada kebudayaan
yang lama, yang dapat mengakibatkan perubahan struktural atau bahkan tidak
terjadi perubahan pada budaya lama.
4. Dekulturasi,
terjadi ketika bagian substansial dari suatu kebudayaan menjadi hilang.
5. Orijinasi,
terjadi ketika sejumlah unsur baru tumbuh dari suatu kebudayaan disebabkan oleh
perubahan situasi.
6. Penolakan,
terjadi ketika suatu perubahan berlangsung terlalu cepat sehingga sejumlah
besar anggota dari suatu budaya tidak mau menerimanya, yang dapat menyebabkan
pemberontakan, penolakan sama sekali, atau gerakan kebangkitan.
Dalam hal kebudayaan Pakpak, tampaknya
akulturasi yang berupa adisi merupakan proses budaya yang terjadi di masa lalu.
Sebelum kedatangan orang-orang India dengan kebudayaannya yang khas,
orang-orang Pakpak telah mewarisi kebudayaan tersendiri yang berbeda dari para
pendatang dari barat tersebut. Datangnya budaya baru pada masyarakat Pakpak
memperkaya khasanah budaya yang telah lama mereka miliki. Pada ranah sistem
kepercayaan misalnya sebelum kedatangan kepercayaan Hindu-Buddha masyarakat
telah memiliki kepercayaan terhadap roh-roh leluhur.
2.3 Struktur Sosial
Masyarakat Pakpak mengenal hubungan
sistem kekerabatan yang hampir sama dengan sistem filosofi orang Batak Toba
yaitu Dalihan Natolu. Di Pakpak sendiri sistem keberabatannya yaitu Sulang
Silima. Unsur Sulang Silima itu adalah: Sukut, dengan
sebeltek si tuaen (Saudara sekandung yang lebih tua), Dengan sebeltek Si
kedeken (Saudara sekandung yang lebih muda), kula-kula/ puang (Kelompok
pihak pengantin perempuan) dan berru (Kelompok pihak pengantin
laki-laki).
Sulang Silima sangat berperan dalam pelaksanaan upacara merbbekas
kom/merbayo dan juga balik ulbas. Peranaan Sulang Silima dalam
pelaksanaan memiliki fungsi dan peran yang saling berhubungan satu sama lain,
ini menjadi landasan interaksi masyarakat dalam menentukan kedudukan, hak dan
kewajiban dan saling membantu dalam upacara tersebut.
Dalam sistem kekerabatan, orang Pak-pak menganut prinsip Patrilineal
dalam memperhitungkan garis keturunan dan pembentukan klen (kelompok kerabat)
yang disebut Marga, sedangkan sistem pewarisan dominan diperuntukkan untuk anak
laki-laki saja. Bentuk perkawinan adalah exogami marga artinya harus menikah
diluar marganya, apabila menikah dengan semarga dianggap melanggar adat.
2.4 Nilai Budaya dan Kelompok Suku Pak-pak
Masyarakat Pakpak memiliki sejumlah
nilai budaya, pengetahuan, aturan, kepercayaan, tabu, sanksi, upacara dan
perilaku budaya yang arif dalam pengelolaan lingkungan. Ada yang disadari dan
ada pula yang tidak disadari oleh masyarakat Pakpak yang terkandung dalam sejumlah
nilai, aturan, tabu dan upacara terutama kegiatan yang berhubungan langsung
dengan alam seperti dalam
sistem ladang
berpindah, mencari damar, berburu, dan meramu dan pengelolaan hutan kemenyaan.
Etnis Pakpak berada di Kabupaten
Dairi, Kabupaten Pakpak Barat dan sebagian bertempat tinggal di Aceh Singkil
(Boang) dan Tapanuli Utara/Tengah (Kelasen). Asal etnis Pakpak diperkirakan
datang dari India melalui Barus atau Singkil dan menurut penelitian, tempat
pertama orang Pakpak adalah Kuta Pinagar (Kecamatan Salak) keturunan dari si
KADA dengan isterinya Lona. Kemudian lahir anaknya bernama si Hiang dengan
turunannya 7 (tujuh) orang yaitu si Haji (Banua Harhar) si Raja Pako (Sicike-cike, Pubada (Aceh Singkil),
Ranggarjodi (Buku Tinambunan), Mbelo (Silaan Rumerah), Sanggir (Kelasen/Taput)
dan Bata (tidak diketahui kemana perginya).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Suku Batak Pakpak
adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di beberapa kabupaten di provinsi
Sumatra Utara dan di sebagian wilayah provinsi Nanggroe Aceh. Belum ditemukan bukti yang otentik dan pasti
tentang asal usul dan sejarah persebaran orang Pakpak. Hasil penelitian yang
dilakukan menunjukkan beberapa variasi. Dalam hal kebudayaan Pakpak, tampaknya
akulturasi yang berupa adisi merupakan proses budaya yang terjadi di masa lalu.
Sebelum kedatangan orang-orang India dengan kebudayaannya yang khas,
orang-orang Pakpak telah mewarisi kebudayaan tersendiri yang berbeda dari para
pendatang dari barat tersebut. Datangnya budaya baru pada masyarakat Pakpak
memperkaya khasanah budaya yang telah lama mereka miliki. Masyarakat Pakpak
mengenal hubungan sistem kekerabatan yang hampir sama dengan sistem filosofi
orang Batak Toba yaitu Dalihan Natolu. Di Pakpak sendiri sistem
keberabatannya yaitu Sulang Silima. Masyarakat Pakpak memiliki sejumlah
nilai budaya, pengetahuan, aturan, kepercayaan, tabu, sanksi, upacara dan
perilaku budaya yang arif dalam pengelolaan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Pengantar Sosiologi Kehutanan. Fakultas Kehutanan,Universitas Hasanuddin:Makassar.
Harahap, M. Asal-usul Suku Pakpak Dairi. Repository.uinsu. 2011
Herna, H. Kebudayaan Masyarakat Kabupaten Pak-Pak Barat. Fakultas
Bahasa dan Seni. Universitas Negeri
Medan.

Sangat membantu
BalasHapusBagus.. thanks infonya..
BalasHapusI purple you
BalasHapusTerimakasih infonya
BalasHapusCocok buat bahan bacaan
BalasHapusSemangat menulis cantik👍
BalasHapusBaru tau pak pak dari India. 👍👍
BalasHapusTulisan yang bagus
BalasHapusInformasinya sangat bermanfaat👍
BalasHapusMakasih kak ilmunya, sangat bermanfaat kak
BalasHapusBagaimana interaksi sosial yg ada di suku pakpak?
BalasHapusTernyata pakpak dari india selatan...
BalasHapusTerimakasih atas info nya kak
Mkasih ilmunya
BalasHapusWah sangat membantu buat teman teman yang suka sejarah
BalasHapusMantap mbak
BalasHapus